Just an ordinary human blog
Pada posting sebelumnya, telah saya sampaikan bahwa flu atau influenza adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, dan dapat sembuh dengan sendirinya dalan 2 atau 3 hari tanpa bantuan obat. Yang diperlukan hanya istirahat yang cukup dan jaga nutrisi agar daya tahan tubuh menjadi lebih baik. Namun bila kita termasuk orang yang aktif atau daya tahan tubuh kita sedang tidak bagus, efek samping yang ditimbulkan oleh virus flu ini akan terasa lebih berat, sehingga harus ditangani dengan obat untuk mengurangi sakit akibat gejala-gejala yang ditimbulkannya. Kalau sudah begini, yang harus kita lakukan adalah berhati-hati dalam mengkonsumsi obat, karena pemakaian obat yang tidak tepat hanya akan menghasilkan pembiayaan untuk pengobatan menjadi lebih mahal. Hindari pemakaian antibiotik, karena obat ini bukanlah untuk flu. Dokter biasanya memaksa kita untuk mengkonsumsi antibiotik (kayaknya di Batam ini obat wajib dari dokter) dengan alasan flu yang kita derita sudah parah dan dikhawatirkan akan terjadi infeksi karena adanya kuman yang masuk. Mungkin masuk akal juga, tapi perlu diketahui bahwa pemakaian antibiotik yang tidak tepat justru menimbulkan dampak negatif berupa munculnya ketahanan pada kuman-kuman tertentu. Jadi kalau bisa ditawar untuk tidak mengkonsumsinya, tawar aja.
Jenis-jenis obat Flu
Pada umumnya obat flu dijual bebas di pasaran baik di apotik ataupun toko obat lainnya, dan untuk memakainya tidak perlu memggunakan resep dokter. Beberapa zat aktif yang terkandung dalam obat flu diantaranya adalah:
1. Analgesik dan antipiretik
Contoh zat aktif yang bersifat sebagai analgesic dan antipiretik adalah paracetamol. Cara kerja obat ini adalah meringankan rasa sakit dan menurunkan demam.
2. Antihistamin
Dari namanya, kelompok obat jenis ini bekerja untuk melawan histamin, yaitu salah satu mediator dalam tubuh yang dilepas pada saat terjadi reaksi alergi. Contoh antihistamin adalah klorfeniramin maleat dan deksklorfeniramin maleat.
3. Dekongestan hidung
Saat flu biasanya hidung terasa tersumbat, dan kita butuk Dekongestan hidung untuk mengurangi gejalanya. Contoh dekongestan hidung antara lain : fenilpropanolamin; fenilefrin, pseudoefedrin dan efedrin.
4. Ekspektoran dan Mukolitik
Jika kita batuk berdahak maka yang diperlukan adalah Ekspektoran dan mukolitik yang dapat mempermudah pengeluaran dahak. Contoh Ekspektoran dan Mukolitik antara lain gliseril guaiakolat, ammonium klorida, bromheksin.
5. Antitusif
Jika batuk kita rasanya “ngedril” tapi tidak keluar dahak alias batuk kering maka yang dibutuhkan adalah Antitusif, yaitu obat yang bekerja pada susunan saraf pusat menekan pusat batuk dan menaikkan ambang rangsang batuk. Contoh antitusif antara lain dekstrometorfan HBr dan difenhidramin HCl (dalam dosis tertentu).
Pemilihan obat flu
Satu hal perlu kita ingat tentang obat flu adlah bahwa sifat dari obat ini bukan untuk mengobati, melainkan hanya untuk meringankan penderitaan akibat gejala-gejalanya saja. Oleh karena itu penggunaan obat flu tidak ditujukan untuk jangka waktu lama dan seperti yang tertera pada kemasan-kemasan obat flu, kita dianjurkan untuk segera menghubungi dokter apabila flu tidak berkurang atau justru semakin berat setelah 3 hari. Karena mungkin flu tersebut telah terkomplikasi dengan virus/kuman lainnya. Untuk pemilihan obat yang tepat hendaknya kita selidiki dulu gejala apa yang dirasakan, kemudian pilih obat yang mengandung zat-zat aktif yang berfungsi untuk mengurangi gejala-gejala yang sesuai. Disarikan dari http://www.dechacare.com
|
|
|
novi
December 1st, 2008 at 11:06 am
baru mau bikin posting tentang flu udah keduluan nih…thanks infonya ya…
Jabro
December 1st, 2008 at 4:46 pm
@novi, ya silakan kalau mau di tulis lagi. GPP
argobel
December 3rd, 2008 at 10:31 am
oh…ngono ta cak………baru ngerti nyonge